Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
nasionalBeritaOPINI

Korupsi Tak Lahir dari Jabatan, Tapi dari Sikap yang Busuk

48
×

Korupsi Tak Lahir dari Jabatan, Tapi dari Sikap yang Busuk

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum LSM KPKB Dede Mulyana menyerukan perlawanan terhadap korupsi dalam momentum Hari Antikorupsi Sedunia.
Ketua Umum LSM Kumpulan Pemantau Korupsi Banten Bersatu (KPKB), Dede Mulyana, menegaskan pentingnya sikap jujur dan integritas nyata dalam melawan korupsi, bukan sekadar pencitraan, pada momentum Hari Antikorupsi Sedunia.

Jakarta – Korupsi di negeri ini bukan kecelakaan, apalagi takdir. Ia lahir dari sikap mental yang busuk dan dibiarkan tumbuh subur oleh budaya pencitraan. Banyak pelaku korupsi tampil bersih, berwajah ramah, dan pandai beretorika soal integritas. Namun di balik topeng itu, mereka justru menjadi perusak kepercayaan publik.

Ketua Umum LSM Kumpulan Pemantau Korupsi Banten Bersatu (KPKB), Dede Mulyana, menegaskan bahwa korupsi bukan sekadar persoalan sistem, melainkan kegagalan serius dalam membangun karakter pejabat publik.

“Jabatan hari ini diperlakukan sebagai alat kekuasaan, bukan amanah. Di situlah korupsi mulai menemukan ruangnya,” tegas Dede dalam rilis opininya.

BACA: Di Balik 400 Hektare Perhutani Bayah: Alat Aktif, Lubang Tambang, dan Dugaan Pembiaran Negara

Menurutnya, kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk melayani rakyat justru kerap diperdagangkan. Anggaran dimanipulasi, proyek dijadikan bancakan, dan kewenangan disalahgunakan demi kepentingan pribadi serta kelompok tertentu.

Ironisnya, semua itu sering dibungkus rapi dengan pencitraan. Baliho prestasi bertebaran, slogan antikorupsi digembar-gemborkan, namun praktik suap dan manipulasi tetap berjalan senyap. Citra dijadikan tameng, sementara kejujuran dikorbankan.

Dede menilai, penindakan hukum saja tidak cukup. Penjara dan hukuman berat hanya menyentuh permukaan jika mentalitas korup tetap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

BACA: KPK Catat Lonjakan Laporan Gratifikasi 2025, Mayoritas dari Unit Pelaporan Instansi

“Tanpa pendidikan integritas dan keteladanan pemimpin, korupsi hanya akan berganti pemain, bukan berhenti,” ujarnya.

Ia menegaskan, rakyat kini tidak lagi mudah dibodohi oleh simbol dan janji. Publik menuntut sikap nyata: hidup sederhana, transparan, dan berani menolak korupsi meski ada peluang.

Selama pencitraan masih dijadikan alat menipu publik, korupsi akan terus hidup. Negeri ini tidak kekurangan aturan, tetapi kekurangan teladan. Dan perubahan sejati hanya lahir dari sikap yang jujur, bukan dari baliho dan slogan kosong.

editor: baralaknusantara.com