BOGOR | Baralaknusanatara.com — Aktivitas pertambangan PT Antam Tbk di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, kembali menuai kritik keras. Aktivis Lingkungan dari Matahari Indonesia, Zefferi alias Apang, mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh, bahkan mempertimbangkan penghentian operasi tambang karena dinilai gagal menyejahterakan masyarakat dan memicu persoalan lingkungan yang berlarut-larut.
Apang menegaskan, selama bertahun-tahun beroperasi, masyarakat lingkar tambang tidak merasakan manfaat signifikan. Sebaliknya, warga menghadapi dampak serius berupa penurunan kualitas air, kerusakan lingkungan, serta ancaman kesehatan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada petani yang mengeluhkan hasil panen menurun dan warga yang tidak lagi memperoleh air bersih seperti sebelumnya.
Baca Juga: Kedai Mentari Resmi Dibuka di Pusat Kota Rangkasbitung, Hadirkan Ruang Nongkrong Modern dan Nyaman
Selain dugaan pencemaran air, tanah, dan udara, aktivitas pertambangan juga disebut telah merusak bentang alam perbukitan dan kawasan hutan yang berfungsi sebagai penyangga ekosistem. Ironisnya, di tengah eksploitasi sumber daya alam, banyak warga sekitar tambang masih hidup dalam kesulitan ekonomi, mencerminkan ketimpangan sosial yang nyata.
Apang juga menyoroti minimnya transparansi perusahaan terkait dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui kondisi lingkungan tempat mereka tinggal karena merekalah yang menanggung dampak langsung.
Baca Juga: Mobil Dinas Dipakai di Hari Libur, Disiplin ASN dan Pengawasan Pemkab Lebak Dipertanyakan
Ia meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) turun langsung melakukan evaluasi objektif dan terbuka. Jika ditemukan pelanggaran, Apang menegaskan negara wajib bertindak tegas sesuai hukum demi melindungi hak rakyat atas lingkungan hidup yang sehat.
Hingga berita ini diturunkan, PT Antam Tbk belum memberikan pernyataan resmi terkait berbagai kritik dan desakan tersebut.
Editor | Baralaknusanatara.com















