Di Tengah Geliat Industri, Pengangguran Masih Tinggi: Ke Mana Arah Kebijakan?
Oleh: Abah Elang Mangkubumi
Serang,- Kabupaten Serang hari ini berdiri di atas fondasi industrialisasi yang terus berkembang. Investasi berdatangan, kawasan industri meluas, dan aktivitas ekonomi terlihat semakin dinamis.
Namun, kemajuan sejati tidak pernah cukup diukur dari apa yang tampak di permukaan.
BACA: Tokoh Banten Abah Elang Mangkubumi: Lebak Terus Bergerak Maju di Tengah Keterbatasan Anggaran
Di balik geliat tersebut, realitas berbicara lain. Tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Serang masih berada di angka 8,73 persen, melampaui rata-rata Provinsi Banten yang berada di kisaran 6,6 persen. Angka ini bukan sekadar statistik—ia adalah cerminan dari ribuan harapan yang belum terserap dalam sistem ekonomi daerah.
Lebih mengkhawatirkan, sektor industri—yang selama ini digadang-gadang sebagai tulang punggung penyerapan tenaga kerja—justru menunjukkan tren penurunan jumlah pekerja dalam periode terakhir.
BACA: Abah Elang Mangkubumi Tegas: Tanah dan Laut Serang Bukan untuk Dijual!
Di titik ini, kita dihadapkan pada sebuah ironi:
pertumbuhan berjalan, tetapi kesejahteraan tertinggal.
Janji Kepemimpinan dan Realitas Lapangan
Kepada Bupati Serang, Ratu Zakiyah, publik tentu tidak sedang menagih retorika.
Janji kampanye bukanlah sekadar rangkaian kata yang selesai setelah pemilihan. Ia adalah amanah yang menuntut arah kebijakan, konsistensi, dan keberanian dalam realisasi.
Ketika kawasan industri berkembang pesat, namun masyarakat lokal masih kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, maka pertanyaan publik menjadi sangat wajar:
Untuk siapa sebenarnya pertumbuhan ini berjalan?
BACA: Lebak Hegar” Jadi Solusi Nyata, Bukan Sekadar Slogan — Abah Elang & Aktivis Baralak Bahas Jalan Baru Kelola Sampah
Apakah investasi yang masuk telah benar-benar berpihak pada tenaga kerja lokal?
Ataukah hanya menjadi angka pertumbuhan tanpa distribusi manfaat yang adil?
Antara Potensi dan Kebijakan
Kabupaten Serang tidak kekurangan potensi. Letak geografis strategis, akses industri yang luas, serta sumber daya manusia yang melimpah adalah modal besar untuk menjadi pusat pertumbuhan yang inklusif.
Namun, persoalan tampaknya bukan pada potensi—melainkan pada arah kebijakan.
Ketika kebijakan tidak sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil masyarakat, maka pertumbuhan hanya akan menjadi narasi elitis, jauh dari realitas rakyat.
BACA; H. Fahmi Hakim Resmi Pimpin BKPRMI Banten: Pagar Nusa Titip Amanah Dakwah dan Kebijakan Publik
Buruh dan pencari kerja tidak menuntut hal berlebihan.
Mereka hanya membutuhkan:
- Kepastian kerja
- Upah yang layak
- Kesempatan yang adil
- Kehidupan yang bermartabat
Makna Kepemimpinan yang Sesungguhnya
Di sinilah kepemimpinan menemukan makna sejatinya.
Bukan pada janji yang diucapkan saat kampanye, melainkan pada dampak yang dirasakan masyarakat.
Kepemimpinan diuji bukan ketika berbicara, tetapi ketika mengambil keputusan yang berpihak.
Bukan saat merancang program, tetapi saat memastikan program itu benar-benar menyentuh kehidupan rakyat.
Penutup: Dari Harapan ke Pertanyaan
Kabupaten Serang tidak kekurangan peluang. Yang dibutuhkan adalah arah yang jelas dan keberpihakan yang nyata.
Agar pertumbuhan tidak berhenti sebagai angka, melainkan hadir sebagai kesejahteraan yang dirasakan.
Sebab pada akhirnya, rakyat tidak hidup dari janji. Mereka hidup dari kepastian.
Dan ketika janji tak kunjung terwujud,
yang tersisa bukan lagi harapan melainkan pertanyaan.
Edotor: Yudistira




















