LEBAK, BARALAKNUSANTARA.COM – Wajah kawasan Jalan Sunan Kalijaga, tepatnya di sekitar Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, mulai bersiap menuju perubahan. Proyek revitalisasi trotoar dan drainase yang tengah dikerjakan di kawasan tersebut diharapkan bukan sekadar memperbaiki infrastruktur, tetapi juga mampu menghadirkan wajah kota yang lebih tertata, nyaman, dan menarik bagi masyarakat.
Dengan anggaran mencapai Rp4.680.582.000 dari APBD Provinsi Banten Tahun Anggaran 2026, penataan kawasan ini membuka harapan baru bagi Rangkasbitung untuk memiliki ruang publik yang lebih representatif. Bahkan, jika ditata secara maksimal, Jalan Sunan Kalijaga berpotensi berkembang menjadi kawasan ikonik yang menawarkan nuansa seperti Jalan Malioboro di Yogyakarta, tentunya dengan karakter dan kearifan lokal Lebak.
Proyek yang dikerjakan oleh PT Azka Bangun Konstruksi tersebut mulai memperlihatkan progres. Pembenahan trotoar dan drainase menjadi bagian penting dari upaya menciptakan kawasan perkotaan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki sekaligus mendukung kelancaran aktivitas masyarakat di sekitar pasar.
Kepala Bagian Administrasi Setda Pemkab Lebak, Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa pekerjaan tersebut merupakan kegiatan Pemerintah Provinsi Banten yang berfokus pada perbaikan infrastruktur pejalan kaki dan drainase.
“Harapannya nanti bisa meningkatkan fungsi drainase serta memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat,” kata Wahyu saat meninjau proyek tersebut, Rabu (7/10/2026).
Revitalisasi Jalan Sunan Kalijaga dinilai memiliki arti penting karena lokasinya berada di kawasan strategis yang menjadi pusat aktivitas perdagangan dan mobilitas warga Rangkasbitung.
Penataan trotoar yang lebih nyaman, drainase yang berfungsi optimal, serta pengelolaan ruang jalan yang tertib dapat menjadi langkah awal untuk mengubah kesan kawasan pasar yang padat menjadi lingkungan perkotaan yang lebih rapi dan ramah bagi masyarakat.
Bayangan menghadirkan suasana seperti Malioboro bukan semata-mata soal trotoar yang diperlebar atau jalan yang dipercantik. Lebih dari itu, diperlukan penataan kawasan secara menyeluruh, mulai dari kenyamanan pejalan kaki, kebersihan lingkungan, keteraturan aktivitas usaha, hingga pengelolaan lalu lintas yang baik.
Jika didukung dengan perencanaan yang berkelanjutan, Jalan Sunan Kalijaga berpeluang menjadi salah satu wajah baru Rangkasbitung. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur mobilitas warga, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang publik yang nyaman dan memiliki daya tarik tersendiri.
Namun, harapan tersebut tentu harus diikuti dengan kualitas pekerjaan yang baik, pengawasan yang konsisten, serta pemeliharaan infrastruktur setelah proyek selesai.
Anggaran Rp4,68 Miliar, Mutu dan Keselamatan Harus Diutamakan
Di balik harapan perubahan wajah kawasan tersebut, kualitas pekerjaan menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Besarnya anggaran yang digelontorkan harus sejalan dengan hasil pembangunan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam jangka panjang.
Wahyu menegaskan bahwa proses pekerjaan harus berjalan sesuai perencanaan dan target waktu yang telah ditetapkan. Namun, percepatan pembangunan tidak boleh mengorbankan mutu maupun keselamatan.
“Jangan sampai karena mengejar target, aspek mutu dan keselamatan justru terabaikan,” pesannya.
Menurutnya, pengawasan lapangan perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan.
Hal tersebut menjadi perhatian khusus karena proyek berlangsung di tengah kawasan yang masih aktif digunakan masyarakat, termasuk pedagang, pembeli, pejalan kaki, dan pengguna jalan lainnya.
Ia juga meminta pelaksana proyek mengutamakan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Area pembangunan harus ditata dengan baik agar keberadaan material, peralatan, maupun aktivitas pekerja tidak membahayakan masyarakat.
“Karena pekerjaan ini berada di tengah aktivitas masyarakat, kami juga meminta pelaksana memperhatikan keselamatan. Area pekerjaan harus ditata dengan baik sehingga tidak membahayakan pekerja maupun masyarakat yang melintas,” sambungnya.
Selain keselamatan, penempatan material dan peralatan proyek juga perlu diperhatikan agar tidak mengganggu mobilitas warga serta aktivitas usaha di sepanjang Jalan Sunan Kalijaga.
Koordinasi antara pelaksana proyek, pengawas, dan pemerintah daerah pun dinilai penting untuk meminimalkan dampak pembangunan terhadap masyarakat.
Progres 24 Persen, Ditargetkan Rampung Desember 2026
Berdasarkan hasil pemantauan, progres fisik revitalisasi trotoar dan drainase tersebut telah mencapai 24 persen. Pekerjaan ditargetkan selesai secara keseluruhan pada Desember 2026.
Dengan target penyelesaian tersebut, pengawasan terhadap kualitas pekerjaan dan ketepatan waktu menjadi hal penting agar hasil revitalisasi sesuai dengan perencanaan.
Pemkab Lebak berharap pembangunan ini tidak berhenti pada perubahan tampilan fisik semata, tetapi benar-benar mampu meningkatkan kenyamanan masyarakat dan memperbaiki fungsi drainase di kawasan sekitar Pasar Rangkasbitung.
Wahyu menegaskan bahwa pemantauan akan terus dilakukan hingga seluruh pekerjaan dinyatakan rampung.
“Harapannya, setelah selesai nanti masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Trotoarnya lebih nyaman, drainasenya berfungsi dengan baik, dan kawasan ini menjadi lebih tertata. Karena itu, kami akan terus melakukan pemantauan sampai pekerjaan benar-benar selesai,” pungkas Wahyu.
Revitalisasi Jalan Sunan Kalijaga kini menjadi salah satu pekerjaan yang dinantikan hasilnya oleh masyarakat. Harapannya, perubahan tersebut dapat menjadi awal penataan kawasan perkotaan Rangkasbitung yang lebih modern, nyaman, dan tertib.
Mewujudkan Jalan Sunan Kalijaga dengan nuansa seperti Malioboro tentu bukan pekerjaan satu malam. Namun, melalui pembangunan berkualitas, penataan kawasan yang konsisten, dan komitmen menjaga ruang publik, Rangkasbitung memiliki peluang untuk menghadirkan ikon perkotaan yang membanggakan masyarakat Lebak. (Red).





















