Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaLebakPeristiwa

Empat Wartawan di Lebak Bantah Tudingan Catut Nama Bupati, Sebut Penyebaran Foto Bermuatan Fitnah

13
×

Empat Wartawan di Lebak Bantah Tudingan Catut Nama Bupati, Sebut Penyebaran Foto Bermuatan Fitnah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi empat wartawan di Lebak terdampak penyebaran foto dan narasi hoaks yang menuding pencatutan nama bupati
Empat wartawan di Kabupaten Lebak yang menjadi sasaran penyebaran foto disertai narasi tudingan mencatut nama bupati. Informasi yang beredar tanpa verifikasi tersebut dinilai sebagai fitnah dan mencemarkan nama baik. (Gambar: Ilustrasi/hoaks/Dok. Baralaknusantara.com)

LEBAK | Baralaknusantara.com – Empat wartawan di Kabupaten Lebak membantah keras tudingan mencatut nama Bupati Lebak yang   beredar melalui foto disertai narasi tuduhan di media percakapan. Mereka menilai

informasi tersebut tidak benar dan telah mengarah pada fitnah serta pembunuhan karakter.

Salah satu wartawan menjelaskan, peristiwa itu bermula saat mereka berkunjung ke sebuah SD Negeri di wilayah Kecamatan Gunungkencana pada Selasa (10/2/2026). Kunjungan tersebut dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar selesai, semata-mata untuk bersilaturahmi.

“Tidak ada transaksi, tidak ada penawaran seragam, dan tidak ada pungutan apa pun. Kami hanya berbincang santai,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Usai dari sekolah, mereka sempat singgah ke kantor Koordinator Wilayah (Korwil) setempat. Sebelum pulang, mereka berfoto bersama sekadar dokumentasi. Namun, tanpa diduga, foto tersebut kemudian beredar luas disertai narasi yang menuding mereka mencatut nama Bupati Lebak.

Akibat penyebaran informasi tersebut, para wartawan mengaku mengalami tekanan psikologis dan kerugian moral. Reputasi mereka di lingkungan masyarakat tercoreng, bahkan berdampak pada keluarga.

“Anak saya sampai menangis karena mendengar bapaknya disebut penipu,” tutur salah satu wartawan dengan suara bergetar.

Keempat wartawan itu menegaskan tidak pernah menjual seragam, menarik iuran, maupun membawa nama Bupati Lebak dalam aktivitas apa pun. Mereka juga mengaku telah menghubungi seorang penyedia seragam bertuliskan “Lebak Ruhay” bernama Ibu Maya, guna meminta klarifikasi dan mencegah kesalahpahaman. Bahkan, mereka menyatakan kesiapan mengembalikan seragam apabila dinilai menimbulkan polemik.

Meski demikian, dampak sosial telah terlanjur terjadi. Beberapa dari mereka mengaku enggan beraktivitas di luar rumah karena khawatir mendapat stigma negatif dari masyarakat.

Keempat wartawan tersebut kini mempertanyakan pihak yang pertama kali menyebarkan foto beserta narasi tudingan itu. Mereka mendesak agar oknum penyebar bertanggung jawab, karena informasi yang beredar dinilai telah memicu keresahan di lingkungan sekolah dan mencemarkan nama baik mereka.

“Sekali pesan berantai dikirim, ratusan orang langsung percaya, tanpa pernah ada konfirmasi kepada kami,” tegasnya.

Mereka menilai penyebaran informasi tanpa verifikasi bukan lagi sekadar kekeliruan, melainkan berpotensi melanggar hukum karena mencemarkan nama baik.

Kini, U, D, HR, dan T hanya berharap klarifikasi mereka diterima publik. Mereka menegaskan tidak mencari simpati, melainkan keadilan serta pemulihan nama baik.

“Lebih sakit difitnah daripada dimarahi. Kami datang dengan niat baik, tetapi pulang membawa tuduhan,” ujar salah satu wartawan.

Mereka juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak menerima dan menyebarkan informasi, serta meminta pihak yang telah menyebarkan foto disertai tudingan tersebut segera memberikan klarifikasi dan menghentikan peredaran kabar yang dinilai tidak bena.

Editor | Baralaknusantara.com