Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
PeristiwaBeritaLebak

Guru SD Terjatuh di Jalan Rusak, Warga Soroti Aktivitas Galian Batu Milik Eman di Guradog

4
×

Guru SD Terjatuh di Jalan Rusak, Warga Soroti Aktivitas Galian Batu Milik Eman di Guradog

Sebarkan artikel ini
Dua pria mendorong sepeda motor di jalan desa berlumpur dan berlubang di Guradog setelah kecelakaan, diduga akibat kerusakan jalan oleh aktivitas truk galian batu
Dua guru SDN 3 Guradog terjatuh saat melintasi jalan rusak dan berlumpur di Kampung Sekol, Curugbitung. Warga menilai kerusakan dipicu aktivitas kendaraan berat dari galian batu dan mendesak perbaikan segera. foto: baralaknusantara.com

Curugbitung, Lebak — Nasib nahas menimpa dua tenaga pendidik dari SDN 3 Guradog, berinisial DI dan SM, saat hendak menjalankan tugas mulia sebagai guru. Keduanya mengalami kecelakaan tunggal akibat kondisi jalan yang rusak parah, berlumpur, dan dipenuhi lubang di wilayah Kampung Sekol, Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, Senin pagi (sekitar pukul 06.30 WIB).

Peristiwa terjadi saat keduanya berangkat menuju sekolah untuk melaksanakan kegiatan rutin upacara bendera hari Senin. Namun, niat mengabdi itu justru dihadang kondisi infrastruktur yang memprihatinkan.

BACA: Police Line Dihancurkan, Tambang Ilegal Jalan Terus: Negara Kalah di Gunung Pinang!

“Saya berangkat pagi, tapi karena jalanan licin dan berlumpur, motor yang saya kendarai terpeleset lalu terjatuh,” ujar SM saat dikonfirmasi.

Meski mengalami sakit di bagian pinggang akibat terjatuh, SM mengaku tetap memaksakan diri melanjutkan perjalanan ke sekolah.

“Alhamdulillah saya masih bisa lanjut berangkat, walaupun pinggang terasa sakit,” tambahnya.

Namun di balik kejadian ini, tersimpan persoalan serius yang tak kunjung terselesaikan. SM mengungkapkan bahwa dirinya sudah beberapa kali mengadukan kondisi jalan rusak tersebut kepada kepala desa setempat. Sayangnya, hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak terkait.

BACA: Truk Tambang “Kuasai” Jalan Maja–Curugbitung, Baralak Soroti Dugaan Pembiaran dan Lemahnya Penegakan Aturan

“Dulu masih ada perbaikan, tapi sekarang seperti dibiarkan hancur. Bahkan sudah mulai banyak korban yang jatuh,” tegasnya.

Jalan Desa Rusak Diduga Akibat Aktivitas Galian Batu

Kondisi jalan yang rusak parah ini diduga kuat merupakan dampak dari aktivitas kendaraan berat pengangkut material batu yang lalu lalang setiap hari. Jalan poros desa yang seharusnya menjadi akses utama warga kini berubah menjadi jalur berbahaya.

Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kerusakan jalan semakin parah sejak maraknya aktivitas galian batu di wilayah tersebut.

“Sekarang kondisinya sangat memprihatinkan. Selain bising karena truk-truk besar, jalannya juga hancur dan penuh lumpur. Ini jalan utama warga,” ujarnya.

BACA: Baralak Nusantara Soroti Dugaan Penurunan Mutu Proyek Jalan Maja–Citeras Senilai Rp5,8 Miliar

Ia juga menambahkan bahwa jalan tersebut telah berkali-kali memakan korban.

“Tadi pagi dua orang guru jatuh, kami warga yang langsung menolong. Ini bukan kejadian pertama,” katanya.

 Sorotan Tajam ke Pengusaha Galian: Tanggung Jawab Tak Bisa Dihindari

Warga secara terang-terangan menyebut bahwa aktivitas galian batu di wilayah tersebut dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Eman. Mereka menilai bahwa kerusakan jalan yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas usaha tersebut.

Desakan pun menguat agar pihak pengusaha tidak lepas tangan terhadap dampak yang ditimbulkan.

“Pemilik galiannya Eman. Harusnya ada tanggung jawab. Jangan hanya ambil keuntungan, tapi membiarkan jalan desa hancur dan membahayakan warga,” tegas warga.

Infrastruktur Rusak, Keselamatan Dipertaruhkan

Peristiwa jatuhnya dua guru ini menjadi bukti nyata bahwa kerusakan jalan bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, melainkan telah mengancam keselamatan jiwa. Ironisnya, hingga kini belum terlihat adanya upaya konkret perbaikan, baik dari pihak pengusaha maupun pemerintah setempat.

Masyarakat berharap ada tindakan tegas dan cepat sebelum korban berikutnya kembali berjatuhan.

“Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin akan ada korban yang lebih parah. Jangan tunggu sampai ada yang meninggal,” tutup warga dengan nada geram.


✍️ Catatan Redaksi:
Kondisi ini menjadi cermin lemahnya pengawasan terhadap aktivitas usaha yang berdampak langsung pada fasilitas publik. Jika benar aktivitas galian menjadi penyebab utama kerusakan, maka sudah seharusnya ada tanggung jawab hukum dan sosial yang ditegakkan — bukan justru pembiaran yang terus memakan korban.

editor: Yudistira

Banten

SERANG,  – Asep Pahrudin resmi ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Provinsi untuk periode 2026–2030. Penetapan tersebut dilakukan dalam rapat konsolidasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Daerah…