Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaDaerahEkonomi

Kadin Banten Bongkar Rahasia UMKM Naik Kelas: Modal Saja Tak Cukup!

11
×

Kadin Banten Bongkar Rahasia UMKM Naik Kelas: Modal Saja Tak Cukup!

Sebarkan artikel ini

LEBAK, BARALAKNUSANTARA.COM — Upaya mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banten agar naik kelas dinilai tidak cukup hanya melalui pemberian tambahan modal. Penguatan tata kelola usaha, kemampuan mengelola keuangan, pemanfaatan teknologi digital, akses pasar, serta pembiayaan yang produktif menjadi bagian penting agar UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Banten, Mochammad Azzari Jayabaya, dalam Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) Kadin Banten yang digelar di Hotel Grand Keisha, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (24/9/2026).

Rapimprov tersebut mengusung tema “Ekonomi Kerakyatan untuk Banten Maju, UMKM Naik Kelas, Ekonomi Berkualitas.” Forum ini menjadi ruang konsolidasi Kadin sekaligus membahas penguatan sektor usaha dan peran UMKM dalam perekonomian Banten.

Azzari menekankan bahwa persoalan UMKM tidak dapat dilihat hanya dari sisi ketersediaan modal. Menurutnya, pelaku usaha juga harus memiliki kemampuan mengelola bisnis secara profesional agar tambahan pembiayaan benar-benar memberikan dampak terhadap perkembangan usaha.

BACA: Panen Perdana Kedelai di Lebak, Kadin Indonesia Dorong Swasembada Pangan Nasional

“Kalau ingin UMKM naik kelas, kita harus melihat usaha itu secara utuh. Bukan hanya modalnya, tetapi juga kemampuan orang yang menjalankannya,” ujar Azzari, sebagaimana diberitakan sejumlah media lokal.

Pembukuan Menjadi Fondasi

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah tata kelola keuangan. Pelaku UMKM didorong untuk membiasakan diri mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghitung biaya produksi, serta mengetahui arus kas usaha.

Pemisahan antara uang usaha dan kebutuhan pribadi juga dinilai penting. Pembukuan yang tertib tidak hanya membantu pemilik usaha mengetahui kondisi bisnisnya, tetapi juga menjadi salah satu dasar ketika pelaku usaha membutuhkan tambahan pembiayaan.

Dengan tata kelola yang lebih baik, pelaku UMKM dapat mengetahui apakah modal yang digunakan benar-benar menghasilkan pertumbuhan atau justru menambah beban usaha.

Modal Harus Dipakai Secara Produktif

Akses terhadap pembiayaan tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM. Namun, pembiayaan tersebut harus disertai kemampuan mengelola usaha.

Artinya, tambahan modal tidak semata-mata digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi diarahkan untuk kegiatan yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, pemasaran maupun pengembangan pasar.

BACA: Robby Sumantri Jayabaya Pimpin Kadin Lebak, Badak Banten Perjuangan Beri Dukungan

Kadin Banten menilai pembiayaan akan lebih bermanfaat apabila pelaku usaha memiliki perencanaan bisnis dan kemampuan mengelola arus keuangan dengan baik.

Perubahan pola konsumsi masyarakat juga menuntut UMKM beradaptasi dengan teknologi.

Namun, digitalisasi yang dimaksud tidak berhenti pada aktivitas promosi melalui media sosial atau platform perdagangan daring. Teknologi juga dapat digunakan untuk pencatatan keuangan, pengelolaan stok, komunikasi dengan pelanggan, pemasaran hingga membangun identitas dan merek usaha.

Karena itu, penerapan teknologi perlu disesuaikan dengan jenis usaha serta kemampuan masing-masing pelaku UMKM. Pelatihan digital juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dapat diterapkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari.

UMKM Jangan Hanya Jadi Objek Program

Azzari juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap UMKM. Pelaku usaha tidak semestinya hanya menjadi penerima bantuan atau objek berbagai program pemerintah.

UMKM harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan ekonomi yang memiliki kemampuan untuk berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

“Kita ingin UMKM menjadi subjek dalam pembangunan ekonomi,” demikian gagasan yang disampaikan Azzari dalam Rapimprov tersebut.

Untuk mencapai hal itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, komunitas, serta organisasi yang memiliki perhatian terhadap pengembangan UMKM.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas terhadap pembiayaan, pelatihan, jaringan bisnis dan pasar.

Penguatan UMKM pada akhirnya bukan hanya mengenai bertambahnya jumlah pelaku usaha. Lebih jauh, usaha masyarakat diharapkan mampu meningkatkan omzet, dikelola secara profesional, memiliki akses terhadap pembiayaan produktif, memanfaatkan teknologi dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

BACA:  Hari Tani Nasional ke-66 di Lebak: Hasbi Dorong Infrastruktur Pertanian hingga Pembebasan Pajak Petani Kecil

Kadin Banten juga menegaskan pentingnya keberlanjutan pendampingan agar program pengembangan UMKM tidak berhenti pada pemberian pelatihan semata.

Dengan pendekatan tersebut, UMKM diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi kerakyatan sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal Banten.

Rapimprov Kadin Banten di Rangkasbitung menjadi salah satu forum untuk memperkuat komunikasi antara jajaran Kadin provinsi dan daerah serta menerjemahkan agenda penguatan dunia usaha ke dalam program yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha di lapangan. (Red).

Editor: Yudistira