Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
OPINI

UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Lebak: Dari Transaksi Lokal hingga Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

6
×

UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Lebak: Dari Transaksi Lokal hingga Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Oleh:  Yudistira
Ketua Umum Barisan Rakyat Lawan Korupsi Nusantara (BARALAK NUSANTARA)

Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lebak tidak semata-mata harus dilihat dari besarnya investasi, pembangunan infrastruktur, maupun pertumbuhan sektor usaha berskala besar. Ada kekuatan ekonomi yang tumbuh dari bawah dan justru bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, yakni Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menurut saya, semakin kuat pemberdayaan pelaku UMKM di suatu daerah, semakin besar pula peluang terciptanya perputaran ekonomi di tengah masyarakat. Ketika sebuah produk lokal diproduksi, dipasarkan, dibeli, dan dikonsumsi oleh masyarakat, di situlah terjadi transaksi ekonomi. Transaksi tersebut kemudian menciptakan efek berantai yang dapat menghidupkan sektor-sektor ekonomi lainnya.

BACA:  Persiapan Akhir Launching KERATON UMKM Lebak Ruhay, ASDA 2 Rahmat Tekankan Koordinasi

Karena itu, UMKM bukan sekadar aktivitas perdagangan kecil. UMKM merupakan bagian penting dari ekosistem ekonomi masyarakat.

UMKM Menciptakan Efek Ekonomi Berantai

Satu produk UMKM mungkin terlihat sederhana. Namun di balik satu produk tersebut terdapat rantai ekonomi yang panjang.

Ada masyarakat yang menyediakan bahan baku, ada pengrajin atau produsen yang mengolahnya, ada tenaga kerja yang membantu proses produksi, ada pelaku usaha yang melakukan pengemasan, ada pedagang yang memasarkannya, ada jasa transportasi yang mengantarkan barang, hingga konsumen yang membeli produk tersebut.

Artinya, ketika pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, maupun masyarakat secara bersama-sama memberikan ruang bagi UMKM untuk berkembang, yang sebenarnya sedang dibangun bukan hanya sektor perdagangan, tetapi juga rantai ekonomi masyarakat.

Semakin banyak transaksi yang terjadi di suatu wilayah, semakin besar pula potensi perputaran uang di wilayah tersebut.

BACA: Dinas Koperasi Lebak Dukung Keraton UMKM Lebak Ruhay, Tepis Isu Sekadar Pasar

Inilah yang menurut saya harus menjadi salah satu perspektif dalam melihat pembangunan ekonomi Kabupaten Lebak.

Keraton UMKM Lebak Ruhay Patut Diapresiasi

Dalam konteks tersebut, KERATON UMKM Lebak Ruhay merupakan sebuah langkah yang patut mendapatkan apresiasi.

Barisan Rakyat Lawan Korupsi Nusantara secara pribadi maupun organisasi memberikan apresiasi terhadap hadirnya wadah yang dapat menampung dan mempertemukan produk-produk lokal dengan konsumen.

KERATON UMKM Lebak Ruhay tidak hanya berbicara mengenai kerajinan. Lebih jauh, keberadaannya dapat menjadi ruang bagi berbagai pelaku usaha UMKM untuk mendapatkan tempat yang layak dalam memperkenalkan sekaligus memasarkan produknya.

Ini penting.

Salah satu persoalan yang sering dihadapi pelaku UMKM bukan semata-mata kemampuan memproduksi barang, tetapi akses terhadap pasar.

Pelaku UMKM bisa saja memiliki produk yang berkualitas, tetapi apabila tidak memiliki tempat pemasaran, jaringan distribusi, promosi, dan akses konsumen yang memadai, maka produk tersebut akan sulit berkembang.

Karena itu, kehadiran pusat atau ruang pemasaran UMKM harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi lokal.

Dari Produk Lokal Menjadi Perputaran Ekonomi Lokal

Bayangkan apabila produk masyarakat Lebak dapat dipasarkan secara konsisten di dalam wilayah Lebak.

BACA:  Menjelang Grand Launching, KERATON UMKM Lebak Ruhay Siap Jadi Pusat Ekonomi Baru di Lebak

Masyarakat membeli produk lokal. Pelaku UMKM memperoleh pendapatan. Pendapatan tersebut kemudian digunakan kembali untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau mengembangkan usahanya.

Perputaran tersebut kemudian menciptakan transaksi baru.

Secara sederhana, inilah yang dapat disebut sebagai multiplier effect atau efek pengganda ekonomi.

Satu aktivitas ekonomi dapat menghasilkan aktivitas ekonomi lainnya.

Karena itu, semakin banyak UMKM yang tumbuh dan semakin luas akses pasarnya, semakin besar pula peluang ekonomi masyarakat untuk bergerak.

Lebak memiliki potensi produk lokal yang sangat beragam. Mulai dari produk kerajinan, makanan dan minuman, fesyen, produk kreatif, hingga berbagai hasil usaha masyarakat lainnya.

Potensi tersebut jangan hanya berhenti sebagai produk rumahan.

Harus ada strategi agar produk lokal tersebut mampu masuk ke pasar yang lebih luas.

Pemerintah Jangan Hanya Membina, tetapi Membuka Pasar

Menurut saya, pemerintah daerah juga memiliki peran penting.

Pembinaan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan. Pelatihan memang penting, tetapi setelah pelatihan selesai, pertanyaan berikutnya adalah: produk mereka dijual ke mana?

Karena itu, pemberdayaan UMKM idealnya mencakup beberapa aspek sekaligus, yaitu peningkatan kualitas produk, pengemasan, legalitas usaha, literasi digital, akses pembiayaan, pemasaran, promosi, hingga penyediaan ruang perdagangan yang layak.

Pemerintah juga dapat mendorong agar produk lokal masuk ke berbagai kegiatan pemerintahan, pariwisata, pusat oleh-oleh, hotel, restoran, maupun pasar digital.

Dengan demikian, pelaku UMKM tidak hanya didorong untuk mampu memproduksi, tetapi juga memiliki kepastian dan kesempatan untuk menjual produknya.

Jangan Sampai UMKM Hanya Menjadi Pajangan

Di sisi lain, kita juga harus kritis.

Setiap pusat UMKM harus benar-benar menjadi ruang transaksi, bukan sekadar tempat memajang produk.

Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak produk yang masuk, berapa banyak pelaku usaha yang terdaftar, atau seberapa bagus bangunannya.

Indikator yang jauh lebih penting adalah:

Apakah produk UMKM benar-benar terjual?

Apakah pendapatan pelaku usaha meningkat?

Apakah semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam aktivitas ekonomi?

Apakah terjadi peningkatan transaksi di wilayah tersebut?

Dan yang paling penting, apakah masyarakat Lebak merasakan manfaat ekonominya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi evaluasi bersama.

Lebak Harus Membangun Ekonomi dari Bawah

Saya berpandangan bahwa pembangunan ekonomi daerah harus memberikan ruang yang besar bagi masyarakat untuk menjadi pelaku, bukan hanya menjadi penonton.

UMKM memberikan kesempatan tersebut.

Seorang ibu rumah tangga dapat menjadi pelaku usaha makanan. Seorang pemuda dapat menjadi kreator produk digital. Pengrajin dapat menjual hasil karyanya. Petani dapat mengembangkan produk olahan. Pelaku usaha kecil dapat naik kelas menjadi usaha menengah.

Ketika mereka mendapatkan ruang, pasar, pendampingan, dan kesempatan yang sama, maka pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di pusat-pusat perdagangan, tetapi juga menyebar ke masyarakat.

Inilah yang semestinya menjadi tujuan besar pemberdayaan UMKM.

Apresiasi Harus Diikuti Penguatan Ekosistem

Barisan Rakyat Lawan Korupsi Nusantara mengapresiasi hadirnya KERATON UMKM Lebak Ruhay sebagai salah satu ruang yang dapat mempertemukan produk masyarakat dengan pasar.

Namun apresiasi tersebut juga harus disertai harapan agar pengelolaannya ke depan semakin profesional, transparan, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi pelaku UMKM.

Jangan sampai hanya pelaku usaha tertentu yang mendapatkan ruang. Sebisa mungkin kesempatan harus terbuka luas bagi masyarakat Lebak yang memiliki produk dan kemampuan untuk berkembang.

Jika dikelola secara konsisten, ruang seperti ini dapat menjadi simpul ekonomi baru di Kabupaten Lebak.

Bukan hanya tempat berjualan, tetapi menjadi pusat interaksi ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa di Tingkat Masyarakat

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan ekonomi daerah bukan hanya terlihat dari angka statistik.

Pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya harus dapat dirasakan masyarakat.

Ketika pengrajin mendapatkan pesanan, ketika pedagang memperoleh keuntungan, ketika tenaga kerja mendapatkan penghasilan, ketika bahan baku lokal terserap, dan ketika uang terus berputar di wilayah sendiri, maka pada saat itulah pertumbuhan ekonomi mulai memiliki makna bagi masyarakat.

Lebak membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini.

Ruang yang mempertemukan produk lokal, pelaku usaha, konsumen, kreativitas, dan transaksi ekonomi.

Karena membangun ekonomi Lebak tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang pertumbuhan ekonomi justru dimulai dari satu produk lokal yang dibeli oleh masyarakat sendiri.

Dan ketika transaksi itu terus terjadi, berulang, dan semakin luas, maka yang tumbuh bukan hanya satu UMKM, tetapi sebuah ekosistem ekonomi masyarakat.(**/).

Merah Putih di Ujung Doa - Abah Elang Mangkubumi