Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
LebakDaerah

Produksi Ubi Kayu dan Ubi Jalar di Lebak Capai 992 Ton, Jadi Andalan Ekonomi Petani

4
×

Produksi Ubi Kayu dan Ubi Jalar di Lebak Capai 992 Ton, Jadi Andalan Ekonomi Petani

Sebarkan artikel ini

LEBAK, BARALAKNUSANTARA.COM — Kabupaten Lebak, Banten, mencatat produksi komoditas pertanian ubi kayu dan ubi jalar mencapai 992 ton dari lahan seluas 305 hektare (ha) selama periode Januari hingga Juli 2026.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan komoditas ubi kayu dan ubi jalar saat ini menjadi salah satu andalan ekonomi masyarakat petani di Kabupaten Lebak.

Menurutnya, aktivitas budidaya kedua komoditas tersebut turut mendorong perputaran ekonomi hingga miliaran rupiah setiap tahunnya.

BACA:  Dinas Pertanian Lebak Pastikan Penyaluran Pupuk Hayati Cair Tepat Sasaran dan Sesuai Prosedur

“Produksi tanaman ubi jalar dan ubi kayu menjadi andalan ekonomi petani dan turut menggulirkan perputaran uang hingga miliaran rupiah per tahun,” kata Rahmat di Lebak, Sabtu.

Pemerintah Kabupaten Lebak, kata Rahmat, terus mendorong para petani untuk meningkatkan produktivitas ubi kayu dan ubi jalar. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan program swasembada pangan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Selain sebagai komoditas pertanian, ubi kayu dan ubi jalar juga memiliki potensi sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras. Komoditas tersebut juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk makanan dan camilan.

“Ubi jalar dan ubi kayu tidak hanya menjadi pangan alternatif, tetapi juga memiliki nilai ekonomi karena dapat diolah menjadi berbagai produk makanan,” ujarnya.

Menurut Rahmat, pengembangan komoditas ubi juga membuka peluang bagi pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), khususnya pelaku usaha yang menggunakan ubi sebagai bahan baku produk olahan.

Ia meyakini peningkatan produksi dan pengolahan hasil panen dapat memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus memperluas peluang usaha masyarakat.

Terlebih, harga ubi di tingkat petani saat ini rata-rata berada di kisaran Rp5.000 per kilogram.

BACA: Dinas Pertanian Lebak Gelar Bimtek OPLA Non Rawa untuk Tingkatkan Produktivitas Petani

“Kami meyakini kehidupan ekonomi petani relatif sejahtera, terlebih harga ubi rata-rata Rp5.000 per kilogram,” katanya.

Petani Andalkan Ubi sebagai Sumber Pendapatan

Sementara itu, Rusman (55), petani asal Blok Cileuweung, Rangkasbitung, mengatakan tanaman palawija, khususnya ubi jalar dan ubi kayu, menjadi salah satu sumber pendapatan bagi dirinya dan keluarga.

Ia memilih mengembangkan komoditas tersebut karena dinilai memiliki pasar dan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.

Rusman menyebut dirinya bersama petani lainnya mengembangkan tanaman ubi di lahan sekitar dua hektare.

“Dari lahan sekitar dua hektare, kami bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp40 juta dalam satu musim panen,” kata Rusman.

Selain mengembangkan tanaman ubi, Rusman juga memanfaatkan lahan milik perusahaan pengembang perumahan yang hingga kini belum digunakan untuk pembangunan.

Lahan tersebut dimanfaatkan untuk menanam jagung dan tanaman palawija lainnya, sehingga tetap produktif sembari menunggu proses pembangunan.

Pengembangan komoditas ubi kayu, ubi jalar, dan palawija diharapkan dapat terus berkembang sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi petani sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Lebak. (**/)

Editor: Yudistira
Mari Sukseskan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama - Baralak Nusantara